Ahad, 19 Jun 2011

Prinsip-Prinsip Teori Rogers - Psikologi Humanistik


teori rogers, prinsip teori rogers, aliran humanistik, humanisme, psikologi humanistik, prinsip humanisme, teori humanisme rogers, artikel psikologi,
Di Dalam Bab 11 dari terapi Client-Centered (1951), Rogers menyajikan tanggung jawab yang terintegrasi dari posisinya dalam wujud 19 dalil (lihat juga Rogers, 1992, cetakan ulang dari artikel 1957). Kebanyakan gagasan berlanjut sampai hari ini yang mendasari praktek-praktek konseling Rogers dan aplikasi Humanistik bagi pendidikan (Kirschenbaum, 1991). Gagasan paling utama yang diringkas disini (lihat Tabel). Pemahaman prinsip ini penting untuk pemahaman dasar dalam berbagai pendekatan sampai pendidikan Humanistik diuraikan kemudian dalam bab ini.
  • Dunia kita adalah Tersendiri,Fenomenologis. Salah satu pernyataan tegas yang paling fundamental dari para ahli fenomenologi adalah bahwa setiap individu adalah pusat  pengalaman pribadi menuju perubahan dunia secara terus- menerus. Hal ini untuk mengenali dua fitur fungsi manusia yang penting untuk guru.
            Pertama, itu berimplikasi bagi siapapun, aspek penting lingkungan adalah pribadi.
            Kedua, prinsip ini menyarankan tidak hanya bahwa fenomenologi dunia bagi indvidu adalah bersifat pribadi tetapi juga bahwa itu tidak pernah sepenuhnya dikenal oleh yang lain. Pertimbangkan, sebagai contoh, keluhan sederhana anak pada ibunya setelah bangun dari mimpi buruk: " Mama, saya takut." Ketakutan anak menyatakan adalah satu aspek penting dan nyata dari dunianya, dan ibu nya boleh menggunakan memori ketakutan masa lampaunya untuk membayangkan apa yang dirasakan anaknya. Tetapi dia tidak mengetahui betul ketakutan anaknya. Fenomenologi dunia tidak pernah dapat dibagi bersama secara penuh.
            Kepercayaan implisit dalam prinsip pertama ini - secara rinci berarti pribadi dan tidak bisa secara penuh dibagi – merupakan pusat bagi pendekatan konstruktifistik[1] bagi pendidikan.
Karakteristik Utama dari Kepribadian Manusia
menurut Rogers (1951)
Prinsip
Klarifikasi
1.   Dunia kita adalah privasi; kenyataan adalah fenomenologikal



2.   Perilaku dapat dipahami hanya dari segi pandangan individual






3.   Tujuan dari eksistensi manusia adalah aktualisasi diri



4.   Kita membangun diri kita sendiri.







5.   Perilaku-perilaku konsisten dengan ide atau gagasan diri.

Aspek penting dari kenyataan ditemukan dalam pengalaman dunia pribadi. Kenyataan kemudian dengan sepenuhnya bersifat Indidualistik. Mereka dapat dirasakan tetapi tidak diketahui orang lain

Pengalaman pribadi kita menentukan realitas kita. Karena perilaku terjadi dalam konteks realitas personal, cara terbaik untuk memahami perilaku seseorang adalah mencoba untuk mengadopsi pandangannya; karenanya, humanisme menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan empati

Masing-masing dari kita mempunyai tendensi dasar untuk bekerja keras secara komplit, sehat,  kompetensi individu melalui suatu proses yang ditandai oleh penguasaan diri, pengaturan diri, otonomi

Kita menemukan siapa diri kita pada dasarnya dari pengalaman, kepercayaan dan nilai bahwa kita menyertakan kedalam konsep diri kita dari informasi yang disajikan oleh orang-orang yang berkomunikasi kepada kita tentang apakah kita

Secara umum, kita memilih perilaku-perilaku yang tidak kontradiksi dengan siapa dan apa yang kita pikir tentang kita

  • Perilaku dapat dipahami hanya dari Perspektif Individual. Kita bereaksi terhadap dunia sebagaimana yang kita alami dan rasakan; itu kenyataan. Apa yang kita rasakan, dilabelkan phenomenal field, menyusun kesadaran dengan segera. Dan karena bidang ini digambarkan dalam pengalaman pribadi individu, kenyataan juga adalah privasi. Oleh karena itu, kenyataan bagi seseorang bukanlah kenyataan bagi yang lainnya. Seorang siswa yang menyukai gurunya, bukan masalah bagaimana guru itu bagi para siswa lainnya, sudahkah seorang guru menyenangkan dalam phenomenal field - dan perilakunya terhadap gurunya akan merefleksikan kenyataan. Inilah alasan mengapa penting untuk seorang guru memahami bahwa para siswa merasa dunia mereka dengan cara berbeda. Jika para guru lebih dekat memahami siswa mereka, mereka harus mencoba untuk mengadopsi pandangan mereka. Ini bukanlah kejadian dimana guru yang nampaknya memahami siswa yang terbaik adalah seringkali digambarkan sebagai empathetic (mampu merasakan bagaimana perasaan orang lain). Sesungguhnya, empati adalah salah satu karakteristik paling utama dari kesuksesan terapis Rogers (Parse, 1998).
  • Tujuan dari Eksistensi Manusia adalah Aktualisasi Diri.
Salah satu cara untuk mendefinisikan Aktualisasi Diri adalah harus mengatakan bahwa hal itu melibatkan apapun juga melalui aktivitas yang ditentukan sendiri (Maslow, 1970). Dengan kata lain, untuk diaktualisasikan harus menjadi aktual atau nyata, untuk mengembangkan kemampuan diri.
Rogers menjelaskan, Aktualisasi Diri, merupakan proses directional dalam dua pengertian: Pertama, hal itu menuju ke arah pengembangan, peningkatan kompetensi, kelangsungan hidup, reproduksi, dan seterusnya.
Secara ringkas, Rogers percaya bahwa manusia mempunyai bagian dalam diri (inner), pengarahan untuk fungsi pengembangan diri, kompetensi , dan kreatif. Hal ini adalah dasar untuk memahami pandangan humanis dari orang-orang sebagai sesuatu esensi bagus dan selamanya bekerja keras ke arah status yang lebih baik.

  • Kita Membangun Diri Kita Sendiri.
Dua sumber informasi penting yang berhubungan dengan pengembangan diri. Pertama adalah pengalaman langsung anak- anak – pengalaman menjadi yang dicintai dan diinginkan dan perasaan baik sebagai hasilnya, pengalaman-pengalaman menyakitkan konsekuensi perwujudannya adalah diri kita tidak suka disakiti. Pengalaman-pengalaman ini langsung mendorong kearah pengembangan kesadaran diri. 
Anak- anak juga mengalami kejadian tidak langsung dengan diri mereka, sering dengan berbagai hal yang diberitahu ("Kamu begitu cerdas, Guy. Anak yang baik"). Pengalaman ini menyokong juga untuk pengembangan diri. Pengalaman seperti ini melatih dugaan positif diri. Tetapi umpan balik negatif (seperti nilai kelas yang rendah atau suara galak orang- orang ketika kamu mengatakan sesuatu, seperti ”punyaku, punyaku, lihat hidung anak kambing itu, maukah anda!”) dapat mendorong kearah konsep diri negatif.


[1] Pendekatan Konstruktivis: label umum untuk metode instruksional adalah learner- centered dan merefleksikan kepercayaan bahwa informasi yang bermakna dikonstruksi oleh para siswa dibandingkan yang diberikan ke mereka. Seringkali dibandingkan dengan direct instruction, pendekatan konstruktivis direfleksikan dalamdiscovery learning, masa magang teori, dan pendekatan Humanistik dalam  mengajar.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan